Senin, 17 Agustus 2009

Belajar Dari Cicak

Belajar Dari Cicak

Cicak-cicak di dindinG

Diam-diam merayaP

Datang seekor nyamuK

Hap,…Lalu ditangkaP

Nyanyian diatas sangat familiar di masyarakat kita dari anak-anak sampai orang tua, mereka semua kebanyakan telah hafal nyanyian cicak tersebut. Nyanyian anak-anak tersebut sebenarnya mengandung filosofi yang dalam bila kita perhatikan dengan seksama.

Sekiranya cicak diberi akal dan perasaan sebagaimana manusia, pasti ia akan protes kepada Yang Menciptakannya. Bagaimana tidak, seekor cicak hidup dengan menempel di dinding, di pohon dan di atas atap rumah-rumah hanya dibekali dengan alat tentakel yang ada di telapak kakinya. Padahal mangsa yang menjadi makanannya mempunyai sayap seperti nyamuk dan jenis-jenis serangga kecil. Mangsa-mangsanya tersebut dapat terbang bebas kemana mereka suka. Betapa beratnya yang dirasakan oleh cicak demi menjaga kelangsungan hidupnya maupun keturunan-keturunannya. Bagaimana mungkin cicak yang hanya dapat menempel untuk bergerak maju dan mundur dapat mencari mangsa yang mempunyai sayap yang dapat terbang kesana-kemari dan tidak tahu kapan mangsanya tersebut mau mendekati dirinya untuk dapat dimakannya. Namun kenyataannya tidak demikian. Cicak mampu menangkap mangsanya yang bersayap tersebut dan mampu mewariskannya cara-cara tersebut kepada anak turunannya. Cicak dari dulu hingga sekarang masih hidup dan tetap ada di pohon, di dinding dan di atas atap rumah-rumah serta tidak merubah bentuk dirinya, ia tetap mempunyai tentakel pada kakinya untuk menempel dan ia tetap tidak mempunyai sayap. Ia tidak protes kepada dirinya sendiri maupun kepada Yang telah Menciptakannya.

Bahkan cicak mampu meruntuhkan teori evolusi Charles Darwin yang dibangun sekitar 150 tahun yang lalu tentang teori survivalnya dimana makhluk yang mampu berdadaptasi dengan lingkungannya ataupun mampu merubah bentuknya maka ia akan bertahan hidup (Teori Evolusi Charles Darwin saat ini mulai dipandang sebagian orang sebagai ilmu filsafat dan bukan sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini karena Teori Evolusi meniadakan tentang campur tangan Tuhan dengan penjelasannya bahwa segala sesuatu di dunia ini ada dengan sendirinya dan yang bertahan hidup hingga saat ini adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan merubah bentuk fisiknya (terjadi evolusi) hingga mampu bertahan di abad modern ini.. Intinya teori Evolusi Darwin adalah filsafat materialisme yang dari dulu hingga kini menjadi roh masyarakat Barat dalam memandang kehidupan di dunia ini. Dari sisi ilmu pengetahuan, tulang belulang maupun penemuan arkheologi lainnya sangat sulit mendukung teori Evolusi Darwin dengan tidak ditemukannya rantai makhluk hidup lain yang menjadi jembatan perubahan-perubahan makhluk dari sebelumnya ke sesudahnya, serta adanya kebohongan-kebohongan yang belakangan ini terbongkar atas penyusunan beberapa kerangka makhluk hidup yang diklaim berumur ratusan bahkan jutaan tahun yang lalu, dimana beberapa susunan kerangka fosil yang dipadukan ternyata terdiri lebih dari satu spesies bahkan berlainan spesies. Ini diketahui setelah pembuktian pengukuran kandungan karbon yang dikandung pada susunan kerangka fosil dari beberapa fosil masing-masing makhluk hidup yang dicoba di rangkai kembali struktur kerangka tubuhnya masing-masing, umur tulang-belulang sebagai penyusun kerangka fosil tersebut berbeda-beda dan tersusun dari tulang-tulang spesies yang berbeda yang dicoba dipaksakan. Belum lagi penemuan-penemuan fosil berbagai jenis ikan, binatang darat, serangga bahkan burung dan tumbuh-tumbuhan yang berumur jutaan tahun yang lalu yang terawetkan secara utuh dalam batuan-batuan kuno bumi yang terbentuk akibat proses geologis bumi serta hewan-hewan serangga dan makhluk kecil lainnya yang terawetkan secara utuh pula di getah pohon damar yang memfosil, menunjukkan semuanya tersebut masih tetap sama, yakni bentuk fisiknya tidak ada sedikitpun menunjukkan adanya perubahan dan tidak ada tanda-tanda menunjukkan terjadinya evolusi pada makhluk hidup tersebut dengan hewan atau tumbuh-tumbuhan yang ada saat ini. Mengakui Teori Evolusi Charles Darwin sama artinya melemahkan bahkan meniadakan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Sempurna, Yang Maha Mencipta, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Membentuk, Yang Maha Menetapkan dan Yang Maha Memelihara segala makhluk-Nya. Tidak aneh bila saat ini di negara-negara Barat sendiri mulai timbul gagasan untuk memunculkan ilmu pengetahuan baru yakni Ilmu Tentang Penciptaan, oleh Sang Perancang Yang Maha Cerdas).

Seharusnya cicak sudah punah atau telah merubah bentuknya dengan mempunyai sayap agar dapat dengan mudah menangkap nyamuk atau serangga kecil lainnya.

Lantas kenapa cicak tetap ada dan hidup hingga saat ini? Siapa yang menggerakkan nyamuk dan serangga untuk mendekati cicak dan sebaliknya? Pasti ada Kekuatan yang mengaturnya dan memeliharanya serta menjaga keseimbangannya.

Dari apa yang tersebut diatas, pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa masalah rezeki seorang manusia sebenarnya sudah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa yang telah menciptakan cicak dan manusia sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya. Coba pikirkan kembali pada contoh kehidupan cicak diatas, apakah cicak yang mendekati nyamuk, atau nyamuk yang mendekati cicak? Jawaban tersebut dapat diperoleh dengan mudah sebagaimana nyanyian cicak di atas, namun membutuhkan makna dan perenungan yang dalam. Gambaran tadi dapat dimaknai bahwa sebenarnya rezeki itu tidak jauh dari sekeliling cicak. Demikian pula pada manusia, rezekinya sebenarnya tidak jauh dari apa yang ada di sekelilingnya. Manusia telah dianugerahi bentuk fisik yang sempurna, akal dan perasaan berupa otak dan hati, yang kesemuanya merupakan sarana untuk menemukan rezeki manusia tersebut. Allah SWT telah merahasiakan tiga hal untuk manusia yakni rezeki, jodoh dan umurnya. Apabila Allah SWT tidak merahasiakan rezeki, jodoh dan umur manusia yang telah ditentukan tersebut, tentu manusia akan malas berusaha, malas bekerja bahkan mungkin mengeluh atau protes kepada Tuhan atas nasib dan takdir yang diterimanya. Masalahnya bagaimana cara manusia memperoleh rezeki yang telah ditetapkan tersebut meskipun telah dirahasiakan. Rezeki harus dicari dengan cara menjemputnya bukan dengan menunggunya. Sebagaimana seorang pemain sepak bola, dia harus aktif menjemput bola, berlari kesana-kesini, mencari posisi yang tepat sambil berharap kawannya melemparkan bola ke arah yang tepat disekitarnya untuk kemudian dia tendang ke arah gawang lawan. Dia tidak menunggu bola dengan hanya berdiam di posisinya berdiri. Demikian juga rezeki harus dicari dan dijemput. Manusia harus berusaha dan bekerja sekuat tenaga guna menafkahi kehidupan dirinya maupun keluarganya. Ia tahu bahwa rezeki itu pasti ada untuk dirinya dan tidak akan menyia-nyiakan rezeki yang sudah ditetapkan kepadanya. Pasti akan ada jalan dan pasti berhasil untuk meraihnya. Cicak saja dapat menemukan rezekinya setelah dia berjalan merayap kesana-kemari mengejar rezeki yang telah disediakan untuknya.

Mengenai besar-kecilnya rezeki yang manusia peroleh atas hasil jerih payahnya setelah ia mencarinya, itulah nasib yang sudah ditetapkan kepadanya. Demikan pula mengenai jodoh manusia, apakah dapat istri cantik, tidak cantik, suami ganteng, tidak ganteng, pendek, tinggi, langsung, gendut dan sebagainya adalah nasib yang telah ditetapkan kepadanya. Demikian pula pendek dan panjangnya umur seorang manusia. Nasib inilah yang sebenarnya merupakan ujian bagi seorang manusia terutama bagi manusia yang beriman, apakah apabila ia diberi kekurangan dan kesusahan, ia dapat berhati ikhlas dan sabar menerimanya dan bila diberi kemudahan serta kesuksesan, ia bersyukur dan lebih taat beribadah kepada-Nya. Bagaimana seorang manusia yang beriman menyikapi nasib yang telah diterimanya tersebut apakah berupa nasib baik atau buruk, menunjukkan kualitas keimanan manusia tersebut. Itulah janji Allah SWT yang telah disampaikan kepada seluruh manusia bahwa setiap manusia akan diuji tentang hartanya, keluarganya, jiwanya dan keimanannya selama kehidupannya di dunia ini. Sehingga nasib manusia di dunia ini dapat berubah-ubah dan dapat dirubah oleh manusia sendiri sebelum maut menjemputnya. Maha Benar Allah dengan firman-Nya: Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut merubah dirinya sendiri.

Karena sifat ke-Maha-Murahan-Nya, manusia yang beriman yang bekerja keras untuk meningkatkan taraf hidupnnya disertai dengan berdoa kepada-Nya, dapat merubah nasibnya menjadi lebih baik. Demikian pula untuk manusia yang tidak beriman kepada-Nya, bila ia bekerja keras meskipun tidak disertai dengan berdoa kepada-Nya, dapat merubah nasibnya menjadi lebih baik. Yang membedakan antara manusia yang beriman dengan yang tidak beriman di atas adalah pada diterima-tidaknya amalan-amalan yang mereka kerjakan selama di dunia ini oleh Allah SWT.

Disinilah Allah SWT menunjukkan sifat ke-Maha-Besaran-Nya dan ke-Maha-Murahan-Nya kepada semua manusia, baik yang beriman kepada-Nya maupun yang tidak beriman, semuanya diberi rezeki oleh Allah SWT.

Bagi siapapun, baik manusia yang beriman maupun yang tidak beriman kepada-Nya, bila maut telah menjemputnya, maka pada kondisi itulah nasibnya akan menjadi takdir bagi dirinya. Sebelum nasib manusia menjadi takdirnya, maka selayaknya manusia selalu bekerja keras meningkatkan kualitas dirinya terus-menerus untuk mampu mengubah nasibnya menjadi lebih baik di hari-hari berikutnya. Dalam rangka memperingati HUT - RI ke 64 dan menyambut datangnya bulan Ramadahan tahun 2009 ini, marilah kita semua selalu bekerja keras dan disertai semangat 45 untuk terus memperbaiki diri agar nasib maupun takdir kita menjadi lebih baik di kemudian hari.

Tasikmalaya, 16 Agustus 2009

Hidayat R/Angkatan 84

*Perenungan ini saya peroleh dari milis alumni yg saya ikuti,memang layak untuk di renungkan. Tks*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar